Archive for adventure

Avtech product

Jogjakarta – Kini musim ujian, dan kemudian liburan. Bagi pelajar dan mahasiswa liburan berarti pendakian gunung, menjelajah alam dan berkemah. Pasar petualangan seperti ini yang diincar Avtech produsen perlengkapan kegiatan alam terbuka. Produk ransel, kantung tidur, bahkan busana ke alam diusung perusahaan berlokasi di Sunter ini.
Guna mengantisipasi kebutuhan ini Avtech mengeluarkan tiga jenis ransel dengan berbagai ukuran. Produk ransel sendiri sudah mengikuti spesifikasi produk unggul dari Korsel, Amerika dan Eropa. Namun pasar ini juga diisi oleh berbagai pemain lain seperti Eiger dan Boogie. Ransel Avtech ditujukan bagi mereka yang akan melakukan perjalanan panjang hingga satu minggu dan lebih. Ransel mereka bervolume 50 liter, 60 liter dan 80 liter.

0345
0347
0347
0720
0345
0373
0382
0349
0382
DryCore
Salewa
WildRiver


Sedangkan cara Avtech menarik perhatian pasar para petualang adalah bersamaan dengan ransel mengeluarkan produk padanan. Kantung tidur Double Cabin dirancang dengan ukuran 70 cm x 180 cm dengan ritsleting yang panjang hingga dapat dibuka sebagai selimut. Terdapat lapisan kedap air dan bahan dalam dari Dacron 4 mm yang dapat menahan dingin hingga 10 derajat celsius dalam posisi selimut dan tertutup bahkan sampai 5 derajat celsius. Cukup untuk di ketinggian 1.000 hingga 2.000 meter dari permukaan laut.
Selain itu Avtech juga meluncurkan jaket Wind Blocker yang dijanjikan tahan hujan lebat tropis. Ukuran dibuat dalam berbagai nomor. Bagian dalam diberi lapisan jaring yang menyekat bahan kedap air jaket dengan kulit pemakainya.
Paling akhir adalah t-shirt, atau kaos oblong. Bahan yang digunakan dapat menyerap keringat. Serat rapat dan tebal agar tahan lama. Masih dalam satu ukuran all size, namun akan dikembangkan dalam pilihan M L XL. Desain yang disajikan merupakan ciri khas penggemar petualangan.

FUN RAFTING CEUY!!!

 

Untuk semakin mendekatkan Lembaga Pencinta Alam MAPALA UNISI kepada segenap mahasiswa, maka pada awal taon 2008 neh lembaga ini mengadakan Fun Rafting. yang bakal diadain tgl 19-20 desember 2008.

Fun Rafting merupakan kegiatan petualangan mengarungi sungai dengan perahu karet. Kegiatan ini dipadu dengan berbagai acara hiburan dan games, sehingga dinamakan Fun Rafting atau wisata arung jeram. Bagi MAPALA UNISI, kegiatan Rafting sebenarnya tidak asing lagi. Sebab Rafting merupakan bagian dari divisi pendidikan yang ada di MAPALA UNISI. Selain Rafting, juga terdapat Panjat Tebing. Gunung Hutan dan Caving atau Goa. Jadi Fun Rafting ini dimaksudkan untuk mendekatkan jarak antara UKM MAPALA UNISI dengan mahasiswa. Dengan adanya ke-dekatan ini diharapkan mahasiswa tertarik untuk bergabung di MAPALA UNISI sebagai anggota.

“Satu hal yang paling menegangkan sekaligus menghibur adalah ketika perahu karet yang ditumpangi melewati jeram-jeram yang berbeda satu sama lain. Ada jeram blender yang memiliki elevasi sungai yang nyaris 75 derajat, ada pula jeram kuda liar yang dipenuhi bebatuan besar-besar. Dan satu lagi jeram naga yang yang memiliki posisi menyempit dengan lebar 2 meter yang berada di celah tebing yang cukup tinggi,”

 

Mountaineering, Berani Mencoba?

Dulu waktu masih imut dan culun tentu kalian akrab dengan sebuah lagu yang liriknya begini : Naik-naik ke puncak gunung// Tinggi-tinggi sekali…// Kiri kanan kulihat saja// Banyak pohon cemara…// bla… bla… bla… Yup, lagu itu dulu seperti menjadi anthem bagi anak-anak yang masih duduk di sekolah dasar. Bagaimana sekarang yah?

Sadar atau tidak, lagu sederhana itu mencoba mendekatkan kita (sejak anak-anak) pada keindahan pesona pegunungan sekaligus menanam rasa betapa alam menyajikan yang terindah bagi kita.

Betewe, ngobrol soal gunung, bisa jadi hampir semua orang pernah merasakan asyiknya menikmati pemandangan indah dari puncaknya. Tapi dibalik itu, kalau kita coba eksplorasi lebih jauh mendaki gunung bukan sekedar wisata alam biasa. Gunung menawarkan “sesuatu” seperti tantangan dan petualangan yang mungkin tiada banding.

Orang kebanyakan mengartikan mendaki gunung sebagai kegiatan mencecah meter demi meter dataran yang akhirnya akan mencapai suatu titik ketinggian. Umumnya rute menuju gunung di daerah wisata sudah tersedia dengan segala fasilitas penunjangnya seperti shelter (tempat peristirahatan), undakan tangga, atau jalan mendaki yang terbuka.

Tapi jangan tawarkan yang beginian kepada para petualang “jantan” yang gemar tantangan. Pasti mereka akan menggelengkan kepala dengan tampang jelek. Hehehe… mendaki gunung lewat fasilitas wisata yang tersedia terlalu gampang, seperti menjentikkan ujung jari, dan memuakkan karena suasana alam yang tak lagi asli.

Orang-orang seperti ini lebih suka mencari rute-rute pendakian yang jarang dilalui orang, kental suasana alam aslinya. Bayangin sambil jalan angin yang bertiup diantara dedaunan membelai manja, burung-burung terbang bebas sambil berkicau, atau lengkingan penghuni hutan asli lainnya.

Aktivitas seperti inilah yang dikenal dengan MOUNTAINEERING.

Mountaineering adalah sebuah kegiatan alam bebas yang menggunakan wahana gunung sebagai sarana kegiatannya. Gamblangnya, ia adalah kegiatan mendaki gunung melalui rute alam asli. Karena itupula kegiatan mountaineering membutuhkan kesiapan teknis tertentu, baik fisik, mental maupun peralatan pendukungnya.

Secara teknis mountaineering terbagi atas tiga kategori kegiatan: hill walking (hiking), scrambling, dan climbing. Ketiga kategori ini memiliki tingkatan aktifitas dan peralatan yang berbeda. Perbedaan mendasar diantaranya akan diuraikan seperti ini…

Hill walking atau yang lebih dikenal sebagai hiking adalah sebuah kegiatan mendaki daerah perbukitan atau menjelajah kawasan bukit yang biasanya tidak terlalu tinggi dengan derajat kemiringan rata-rata di bawah 45 derajat. Dalam hiking tidak dibutuhkan alat bantu khusus, hanya mengandalkan kedua kaki sebagai media utamanya. Tangan digunakan sesekali untuk memegang tongkat jelajah (di kepramukaan dikenal dengan nama stock atau tongkat pandu) sebagai alat bantu. Jadi hiking ini lebih simpel dan mudah untuk dilakukan.

Level berikutnya dalam mountaineering adalah scrambling. Dalam pelaksanaannya, scrambling merupakan kegiatan mendaki gunung ke wilayah-wilayah dataran tinggi pegunungan (yang lebih tinggi dari bukit) yang kemiringannya lebih ekstrim (kira-kira di atas 45 derajat). Kalau dalam hiking kaki sebagai ‘alat’ utama maka untuk scrambling selain kaki, tangan sangat dibutuhkan sebagai penyeimbang atau membantu gerakan mendaki. Karena derajat kemiringan dataran yang lumayan ekstrim, keseimbangan pendaki perlu dijaga dengan gerakan tangan yang mencari pegangan. Dalam scrambling, tali sebagai alat bantu mulai dibutuhkan untuk menjamin pergerakan naik dan keseimbangan tubuh.

Berbeda dengan hiking dan scrambling, level mountaineering yang paling ekstrim adalah climbing! Climbing mutlak memerlukan alat bantu khusus seperti karabiner, tali panjat, harness, figure of eight, sling, dan sederetan peralatan mountaineering lainnya. Kebutuhan alat bantu itu memang sesuai dengan medan jelajah climbing yang sangat ekstrim. Bayangkan saja, kegiatan climbing ini menggunakan wahana tebing batu yang kemiringannya lebih dari 80 derajat! Ouhhh…

Nah, tentu saja mountaineering ini cukup menantang untuk digeluti… selain wahana kegiatannya yang berada di daerah ketinggian pegunungan yang diwarnai dengan tebing lembah, ngarai, ceruk, sungai, dan panorama tiada tara, untuk melakoni mountaineering ini tentu saja dibutuhkan kesiapan fisik yang mantap.

Secara garis besarnya untuk melakoni mountaineering pastikan tubuh kalian dalam kondisi sehat, fit, dan stamina oke. Untuk itu olahraga teratur sangat mutlak. Selain itu, kau harus bebas dari semua phobia akan hal-hal yang berkaitan dengan tempat-tempat tinggi dan punya kesiapan rencana yang mantap!

Peralatan dasar kegiatan alam bebas seperti ransel, vedples (botol air), sepatu gunung, pakaian gunung, tenda, misting (rantang masak outdoor), kompor lapangan, topi rimba, peta, kompas, altimeter, pisau, korek, senter, alat tulis, dan matras mutlak dibutuhkan selain alat bantu khusus mountaineering seperti tali houserlite/kernmantel, karabiner, figure of eight, sling, prusik, bolt, webbing, harness, dan alat bantu khusus lainnya yang dibutuhkan sesuai level kegiatannya.

Ok, selamat ber-mountaineering-ria!

Arung Jeram Jawa Barat

SUKABUMI – Lama digeluti sebagai hobi, arung jeram berkembang menjadi wisata komersial sejak era sembilan puluhan. Berawal dari kenekatan segelintir pehobi, wisata pemicu adrenalin itu terus menggeliat. Operator-operator baru bermunculan. Mau tak mau, persaingan pun kian menajam. Agar bisa bertahan, dibutuhkan kejelian melihat animo pasar. Itu sebabnya, para operator membuat paket menarik untuk merayu konsumen. Yang pasti, wisatawan tak lagi sekadar menikmati ”galaknya” arus sungai yang sampai berbuih-buih itu.   

                                                               Bayu Dwi Mardana
Para petualang bersorak saat mengarungi jeram Sungai Cikandang.

Masyarakat di Sungai Citarik percaya , pernah ada seorang ibu yang sedang mencuci di sungai kehilangan anaknya karena dimakan ikan. Lokasi hilangnya anak tersebut kemudian dinamai Desa Cigelong (Ci = air, gelong = tertelan). Desa Cigelong saat ini menjadi meeting point dan start arung jeram yang diselenggarakan oleh operator Arus Liar, di Sukabumi Jawa Barat.
Masyarakat di seputar Citarik masih percaya bahwa pelaku kejahatan yang menyeberang Sungai Citarik pasti akan tertangkap. Mitos dan kepercayaan menjadi kekayaan batin penduduk di desa-desa sepanjang aliran Sungai Citarik.
Di sepanjang Sungai Citarik terdapat empat operator arung jeram. Pada mulanya hanya BJ’S di tempat ini. Lalu ada Arus Liar, Ardis dan Selaras. Dan pernah ada operator Citra tetapi kini sudah kolaps.
Arung jeram dewasa ini bukan lagi olahraga air yang asing bagi masyarakat. Sudah dikenal oleh pecinta alam sejak dekade 70-an. Pasalnya pada awalnya kegiatan arung jeram sempat bercitra buruk. Olahraga alam yang berisiko mencabut nyawa. Ini karena Citarum Rally yang menelan korban tujuh orang tewas pada tahun 1975.
”Waktu itu, reputasi arung jeram jadi sangat jelek. Musibah itu bisa terjadi karena banyak orang belum tahu arung jeram. Sama saja kita nggak bisa bawa motor terus disuruh ikut balap motor,” kenang Lody Korua, Direktur Utama PT Lintas Jeram Nusantara, pengelola Arus Liar, di Sungai Citarik, Sukabumi.
Lody yang bekerja bersama istrinya ini memulai usaha itu pada tahun 1995. Berawal dari hobi, kini usahanya berkembang pesat. Padahal dulu, tamu-tamu yang datang hanya segelintir pekerja asing di Indonesia. Kini, wisatawan lokal justru menjadi pasar utamanya.
Diungkapkan pula oleh surpervisor Arus Liar, Komarudin, pilihan Sungai Citarik ditempuh melalui survei panjang. Setelah dua tahun mengadakan survei yang dilakukan di banyak sungai, pilihan akhirnya jatuh pada sungai ini yang berhulu di Taman Nasional Gunung Halimun. Harapannya, debit sungai diperkirakan tidak terpengaruh di musim kemarau. Tetapi ternyata dalam satu tahun Arus Liar praktis hanya mampu beroperasi selama 8 bulan saja. Penebangan hutan menjadi salah satu faktor turunnya debit air di sepanjang Sungai Citarik.
Pada waktu Lody memulai kegiatannya, peralatan masih seadanya. Sekarang peralatan berkembang. Namun hingga saat ini mereka masih memesan peralatan dari luar negeri.

Paket Wisata
Arus Liar membagi jarak tempuh paket wisata arung jeram. Misalnya saja rafting sepanjang 13 kilometer dari meeting point menuju ke Desa Cikadu pelabuhan Ratu. Atau paket rafting yang dimulai dari Parakan Telu menuju ke Desa Citangkolo Kecamatan Cikidang sepanjang delapan kilometer. Dan paling pendek rute empat kilometer yang ditempuh selama satu jam.
Menyadari bahwa jualannya sangat terpengaruh oleh faktor alam, Lody Korua berimprovisasi mengembangkan jenis kegiatan lain. Pelanggan yang datang berulang, repeat customer, maka alternatif petualangan alam lain yang mereka pikirkan. Akhirnya diadakan fasilitas untuk kegiatan paintball (main perang-perangan seperti perang sungguhan), off-road (jalan-jalan di gunung naik jip), trekking (jalan-jalan di lereng gunung), berkemah, menginap di delta Citarik dalam rumah sederhana berbentuk saung, dan yang terakhir adalah fasilitas petualangan buat anak-anak.
Di tengah persaingan usaha yang cukup ketat, Arus Liar menyiasati dengan meningkatkan keamanan bagi tamu-tamu. Operator ini yang pertama memberlakukan kebijakan untuk tiap lima perahu didampingi satu perahu rescue. Mereka yang pertama melengkapi perahu rescue dengan tim medis. Antisipasi keadaan darurat dengan memelopori tim rescue darat menggunakan mobil off road. Kalau terjadi apa-apa, seperti mendadak banjir, evakuasi bisa dilakukan dengan lebih cepat.

Cikandang
Salah satu kiat dalam berusaha adalah meniru keberhasilan usaha. BJ yang pertama di Citarik, berasal dari pengelola arung jeram di Sungai Ayung, Ubud, Bali. Pada gilirannya pengelola di Sungai Ayung, Ubud Bali adalah operator arung jeram di banyak sungai terkemuka dunia yang berawal dari keberhasilan di Sungai Colorado,AS. Loddy Korua pun berawal dari BJ sebelum ia mengelola Arus Liar.
Rupanya usaha getok tular ini pun menjangkit ke kawasan lain di Jawa Barat. Di Sungai Cisadane dan hulu Ciliwung pun ada yang mengelola kegiatan arung jeram. Memang tidak sebesar dan seterkenal di Citarik. Sedangkan yang baru di Sungai Cikandang, Garut.
Bila Citarik telah terkelola rapi, Sungai Cikandang, Bungbulang, Garut justru menanti kehadiran investor. Dengan sejumlah kelebihan, Cikandang dipandang punya potensi sebagai pilihan wisata arung jeram. Apalagi saat berjalan menuju lokasi start kita disuguhi aneka panorama. Jalurnya juga menantang. Dari aspal mulus hingga medan off-road berbatu-batu.
Sungai yang punya tingkat kesulitan 3 – 4 itu telah lama diarungi para pehobi arung jeram. Walau tak ada data pasti, namun sejak akhir sembilan puluhan Cikandang berhasil merayu kedatangan para petualang. Mereka datang dari mana-mana. Dari tingkat lokal hingga luar daerah, seperti Jakarta, Bogor, Bandung, Bali dan lainnya.
Bagi wisatawan pencari kenikmatan adrenalin alias olahraga pacu jantung itu, Cikandang adalah tempat yang tepat. Karakteristik jeram yang menantang dan layak diarungi berbalut dengan panorama alam. Tebing-tebing batuan andesit dengan selingan akar pohon tua amat memanjakan mata. Di daerah datar, tumbuh permukiman penduduk yang jumlahnya tak banyak.
Pesona alami berpadu dengan jeram yang penuh kejutan tentu membuat rasa penasaran para petualang. Tiap kali mata menatap rangkaian jeram yang ganas, seolah hati ini bergetar. Kadang getaran itu berupa kekhawatiran, bahkan mungkin ketakutan. Tapi yang lebih sering, getaran itu hampir persis seperti giuran ”syuur” ketika seseorang menatap wanita berparas cantik.
Air sungai berhulu di Gunung Papandayan ini amat jernih. Polusi masih jauh dari sini. Tak ada pabrik dan perilaku jorok pengaruh kota besar. Penduduk lebih banyak memanfaatkan derasnya sungai sebagai pembangkit listrik tenaga air berupa kincir.
Lokasi finish yang dekat dengan pesisir selatan pantai Desa Cijayana, Bungbulang makin menambah keasyikan. Empat ratus meter di depan, mata disuguhi panorama pantai. Jadi kalau mau berlanjut dengan penyisiran pantai, sungguh sesuai dengan idaman.

Sulit Bisnis
Menurut Fajar Bakri dari Boogie Adventure Club, Cikandang jadi favorit petualang gara-gara debit airnya yang cenderung stabil. Walau surut saat kemarau, jeram sungai ini tak banyak yang hilang. ”Kita masih bisa menikmati jeram ber-grade tiga. Tantangannya juga masih ada.” Keistimewaan itu tentu amat memanjakan para petualang. Cikandang tak kenal musim pengarungan.
Kondisi itu tampaknya tak banyak dijumpai di sungai-sungai Jawa Barat. Maraknya penebangan liar di kawasan hulu tentu berdampak langsung bagi debit air sungai. Itu sebabnya, saat kemarau, operator wisata arung jeram di sungai Sungai Citarik menjerit.
Variasi jeram yang tergolong komplet, juga menjadi daya tarik tersendiri. Ini diakui Bakri. Di sungai ini, manuver yang dilakukan haruslah tepat. Bila salah langkah, hanya dalam hitungan beberapa detik perahu akan mengalami flip (terbalik). Atau lengah sedikit, tubuh bakal tertendang jeram.

”Di Cikandang, kita nggak perlu nunggu lama buat dapat jeram. Beberapa meter dari lokasi start, di depan sudah ada jeram ”selamat datang”. Apa nggak asyik tuh,” ujar Adiningrat, pehobi arung jeram bersemangat. Buat yang pertama kali turun, tentu kejutan itu terasa istimewa.
Selain jeram ”selamat datang”, ada sederet jeram dengan tingkat kesulitan tinggi yang telah menunggu. Sebut saja, Jeram Bangkai, Jeram Sobek, Jeram Erlan Hole, Jeram Tepung, Jeram Batu Nunggul, Jeram Panjang, Jeram Anis, Jeram Parakan Lubang dan Jeram Goodbye. Selama empat jam, kita bisa menikmati semua itu.
Walau punya sederet kelebihan, bukan berarti Cikandang jadi favorit di mata operator arung jeram. Jauhnya perjalanan ke lokasi start menjadi hambatan tersendiri. Ini jelas mempengaruhi perhitungan harga jual dan waktu kegiatan. Meski begitu, beberapa operator dan klub pecinta alam memasukkan nama Cikandang dengan option khusus.
Kata Bakri, dulu ada operator bernama You Can Raft yang coba menjual potensi wisata sungai ini. Tapi itu tak berlangsung lama. Mahalnya harga paket, membuat para peminat surut. Padahal mereka telah membuat paket terpadu. Racikan antara kemping di hutan, arung jeram dan diakhiri dengan offroad.
”Lamanya kegiatan itu, juga berpengaruh untuk paket wisata yang ditawarkan. Orang kan biasanya pengen arung jeram buat ngisi waktu weekendnya. Nah, sekarang kalau kita ke sini (Cikandang), paling tidak butuh waktu minimal tiga hari,” ujar Bakri yang dibenarkan dengan anggukan oleh Adi. Bakri lantas berharap, pembangunan jalan lintas selatan Jawa Barat dapat selesai dalam waktu dekat. Dengan begitu, investor pun datang untuk menggarap. Apalagi bila didukung oleh pemerintah daerah.