

Dulu waktu masih imut dan culun tentu kalian akrab dengan sebuah lagu yang liriknya begini : Naik-naik ke puncak gunung// Tinggi-tinggi sekali…// Kiri kanan kulihat saja// Banyak pohon cemara…// bla… bla… bla… Yup, lagu itu dulu seperti menjadi anthem bagi anak-anak yang masih duduk di sekolah dasar. Bagaimana sekarang yah?
Sadar atau tidak, lagu sederhana itu mencoba mendekatkan kita (sejak anak-anak) pada keindahan pesona pegunungan sekaligus menanam rasa betapa alam menyajikan yang terindah bagi kita.
Betewe, ngobrol soal gunung, bisa jadi hampir semua orang pernah merasakan asyiknya menikmati pemandangan indah dari puncaknya. Tapi dibalik itu, kalau kita coba eksplorasi lebih jauh mendaki gunung bukan sekedar wisata alam biasa. Gunung menawarkan “sesuatu” seperti tantangan dan petualangan yang mungkin tiada banding.
Orang kebanyakan mengartikan mendaki gunung sebagai kegiatan mencecah meter demi meter dataran yang akhirnya akan mencapai suatu titik ketinggian. Umumnya rute menuju gunung di daerah wisata sudah tersedia dengan segala fasilitas penunjangnya seperti shelter (tempat peristirahatan), undakan tangga, atau jalan mendaki yang terbuka.
Tapi jangan tawarkan yang beginian kepada para petualang “jantan” yang gemar tantangan. Pasti mereka akan menggelengkan kepala dengan tampang jelek. Hehehe… mendaki gunung lewat fasilitas wisata yang tersedia terlalu gampang, seperti menjentikkan ujung jari, dan memuakkan karena suasana alam yang tak lagi asli.
Orang-orang seperti ini lebih suka mencari rute-rute pendakian yang jarang dilalui orang, kental suasana alam aslinya. Bayangin sambil jalan angin yang bertiup diantara dedaunan membelai manja, burung-burung terbang bebas sambil berkicau, atau lengkingan penghuni hutan asli lainnya.
Aktivitas seperti inilah yang dikenal dengan MOUNTAINEERING.
Mountaineering adalah sebuah kegiatan alam bebas yang menggunakan wahana gunung sebagai sarana kegiatannya. Gamblangnya, ia adalah kegiatan mendaki gunung melalui rute alam asli. Karena itupula kegiatan mountaineering membutuhkan kesiapan teknis tertentu, baik fisik, mental maupun peralatan pendukungnya.
Secara teknis mountaineering terbagi atas tiga kategori kegiatan: hill walking (hiking), scrambling, dan climbing. Ketiga kategori ini memiliki tingkatan aktifitas dan peralatan yang berbeda. Perbedaan mendasar diantaranya akan diuraikan seperti ini…
Hill walking atau yang lebih dikenal sebagai hiking adalah sebuah kegiatan mendaki daerah perbukitan atau menjelajah kawasan bukit yang biasanya tidak terlalu tinggi dengan derajat kemiringan rata-rata di bawah 45 derajat. Dalam hiking tidak dibutuhkan alat bantu khusus, hanya mengandalkan kedua kaki sebagai media utamanya. Tangan digunakan sesekali untuk memegang tongkat jelajah (di kepramukaan dikenal dengan nama stock atau tongkat pandu) sebagai alat bantu. Jadi hiking ini lebih simpel dan mudah untuk dilakukan.
Level berikutnya dalam mountaineering adalah scrambling. Dalam pelaksanaannya, scrambling merupakan kegiatan mendaki gunung ke wilayah-wilayah dataran tinggi pegunungan (yang lebih tinggi dari bukit) yang kemiringannya lebih ekstrim (kira-kira di atas 45 derajat). Kalau dalam hiking kaki sebagai ‘alat’ utama maka untuk scrambling selain kaki, tangan sangat dibutuhkan sebagai penyeimbang atau membantu gerakan mendaki. Karena derajat kemiringan dataran yang lumayan ekstrim, keseimbangan pendaki perlu dijaga dengan gerakan tangan yang mencari pegangan. Dalam scrambling, tali sebagai alat bantu mulai dibutuhkan untuk menjamin pergerakan naik dan keseimbangan tubuh.
Berbeda dengan hiking dan scrambling, level mountaineering yang paling ekstrim adalah climbing! Climbing mutlak memerlukan alat bantu khusus seperti karabiner, tali panjat, harness, figure of eight, sling, dan sederetan peralatan mountaineering lainnya. Kebutuhan alat bantu itu memang sesuai dengan medan jelajah climbing yang sangat ekstrim. Bayangkan saja, kegiatan climbing ini menggunakan wahana tebing batu yang kemiringannya lebih dari 80 derajat! Ouhhh…
Nah, tentu saja mountaineering ini cukup menantang untuk digeluti… selain wahana kegiatannya yang berada di daerah ketinggian pegunungan yang diwarnai dengan tebing lembah, ngarai, ceruk, sungai, dan panorama tiada tara, untuk melakoni mountaineering ini tentu saja dibutuhkan kesiapan fisik yang mantap.
Secara garis besarnya untuk melakoni mountaineering pastikan tubuh kalian dalam kondisi sehat, fit, dan stamina oke. Untuk itu olahraga teratur sangat mutlak. Selain itu, kau harus bebas dari semua phobia akan hal-hal yang berkaitan dengan tempat-tempat tinggi dan punya kesiapan rencana yang mantap!
Peralatan dasar kegiatan alam bebas seperti ransel, vedples (botol air), sepatu gunung, pakaian gunung, tenda, misting (rantang masak outdoor), kompor lapangan, topi rimba, peta, kompas, altimeter, pisau, korek, senter, alat tulis, dan matras mutlak dibutuhkan selain alat bantu khusus mountaineering seperti tali houserlite/kernmantel, karabiner, figure of eight, sling, prusik, bolt, webbing, harness, dan alat bantu khusus lainnya yang dibutuhkan sesuai level kegiatannya.
Ok, selamat ber-mountaineering-ria!