Futsal

Hampir sepekan yang lalu (15 April), Koran Tempo menurunkan feature soal perkembangan baru sepakbola yang kini tengah booming di Indonesia, futsal. Permainan sepakbola dengan format mirip basket itu memang menjadi ajang bermain baru sebagai antisipasi sempitnya lahan.

Kebetulan pula hari Minggu itu digelar final Liga Futsal Indonesia di Senayan, Jakarta. Biangbola sebagai klub futsal pro tertua di Indonesia akhirnya keluar sebagai juara usai mengalahkan Mastrans Jakarta 2-1. Selain perhelatan itu sendiri yang bersejarah karena baru pertama kali diadakan, jumlah penonton yang hadir selama babak final four juga menakjubkan.

Menurut catatan Dji Sam Soe, selaku sponsor utama final four, jumlah penonton per hari mencapai sekitar 2000 orang. Bahkan khusus di partai final ada sekitar 3000 kepala yang memenuhi Hall Basket Senayan. Jumlah itu melebihi rekor penonton di Indonesian Basketball League atau Proliga Voli.

Tapi yang perlu disimak adalah kesan sponsor dan ketua Badan Futsal Nasional (BFN), Cemby Hutapea, soal ramainya futsal, termasuk di liga. Pesan yang mau disampaikan sebenarnya adalah memperlihatkan kepada khalayak bagaimana bermain futsal yang baik dan benar sesuai peraturan resmi FIFA.

Dari faktor lapangan, futsal di Indonesia memang masih terkesan salah kaprah. Dari feature Tempo tadi, terlihat banyak lapangan yang menggunakan rumput sintetis (artificial grass). Padahal menurut aturan FIFA, lapangan futsal beralaskan karpet (matras) atau partikel kayu. Itu sebabnya, BFN menggunakan karpet untuk penyelenggaraan liga.

Mungkin penggunaan rumput sintetis dimaksudkan untuk mengantisipasi gaya main sepakbola konvensional yang dianut para penggila futsal. Dalam olahraga futsal, tekel atau body charge adalah kegiatan terlarang. Tentu saja akan dilarang karena lapangannya menggunakan hard cover (bukan tanah yang empuk). Jika ada pemain yang jatuh karena ditekel, maka akibatnya akan lumayan fatal.

Tapi menjadi hal yang wajar karena futsal masih baru di Indonesia. Tak banyak orang kita yang lebih dulu mengenal futsal ketimbang sepakbola. Akhirnya, banyak pemain yang masih bergaya sepakbola ketika memainkan futsal. Padahal menurut Ronaldinho (Brasil – Barcelona) atau Robinho (Brasil – Real Madrid), seorang pemain sepakbola justru sebaiknya mengenal futsal lebih dulu karena bisa belajar mengenai skill mengolah bola dan rotasi posisi yang cepat di areal relatif sempit.

Tapi ini memang sebuah proses. Menggeluti futsal boleh jadi akan dilirik banyak bibit muda Indonesia sehingga nantinya akan berguna di sepakbola. Siapa tahu, sepakbola Indonesia yang kembang kempis itu bisa berubah drastis dalam beberapa tahun ke depan melalui maraknya futsal.

Leave a Comment