Archive for November, 2007

Menu makan digunung Rinjani!

Buat yg mauk berekspedisi ke rinjani neh…. huhuhuhuhu

kapan sayah yup..?!!

Hari 1

Hari 2

Hari 3

Hari 4

Hari 5

Makan Pagi (Lembah Rinjani)
Roti Bakar & pisang keju,
Pisang pancake & madu, Buah segar & soup, Teh & Kopi Indocafe di Lembah Rinjani Guest House
Makan Pagi (Plawangan Sembalun Crater Rim)
Roti Bakar & pisang keju, Pisang pancake & madu, Buah segar & soup, Teh & Kopi Indocafe
Makan Pagi (Danau Segara Anak)
Roti Bakar & pisang keju,
Pisang pancake & madu, Buah segar & soup, Teh & Kopi Indocafe
Makan Pagi (Danau Segara Anak)
Roti Bakar & pisang keju,
Pisang pancake & madu, Buah segar & soup, Teh & Kopi Indocafe
Makan Pagi (Di hotel senaru)
Roti Bakar & pisang keju,
Pisang pancake & madu, Buah segar & soup, Teh & Kopi Indocafe
Makan Siang (Post 3)
Mie Goreng & Ayam Goreng & Nasi Goreng sesuai pilihan, Buah Segar Teh & Kopi Indocafe
Makan Siang (Danau Seagara Anak)
Mie Goreng & Ayam Goreng & Nasi Goreng sesuai pilihan, Buah Segar Teh & Kopi Indocafe
Makan Siang (Danau Segara Anak) Mie Goreng & Ayam Goreng & Nasi Goreng sesuai pilihan, Buah Segar Teh & Kopi Indocafe Makan Siang (Post 2)
Mie Goreng & Ayam Goreng & Nasi Goreng sesuai pilihan, Buah Segar Teh & Indocafe
 

Makan Malam (Plawangan Sembalun Crater Rim)
Nasi Goreng telur & ayam, Mie Goreng Cah Kangkung, buah segar, teh & Kopi Indocafe

Makan Malam (Danau Segara Anak)
Nasi Goreng telur & ayam, Mie Goreng soup sayur, ikan mujair goreng sambal, buah segar, teh & Kopi Indocafe

Makan Malam (Danau Segara Anak)
Nasi Goreng telur & ayam, Mie Goreng soup sayur, buah segar, teh & Kopi Indocafe

Makan Malam (Di hotel senaru)
Nasi Goreng telur & ayam, Mie Goreng soup sayur, buah segar, teh & Kopi Indocafe

 

Mountaineering, Berani Mencoba?

Dulu waktu masih imut dan culun tentu kalian akrab dengan sebuah lagu yang liriknya begini : Naik-naik ke puncak gunung// Tinggi-tinggi sekali…// Kiri kanan kulihat saja// Banyak pohon cemara…// bla… bla… bla… Yup, lagu itu dulu seperti menjadi anthem bagi anak-anak yang masih duduk di sekolah dasar. Bagaimana sekarang yah?

Sadar atau tidak, lagu sederhana itu mencoba mendekatkan kita (sejak anak-anak) pada keindahan pesona pegunungan sekaligus menanam rasa betapa alam menyajikan yang terindah bagi kita.

Betewe, ngobrol soal gunung, bisa jadi hampir semua orang pernah merasakan asyiknya menikmati pemandangan indah dari puncaknya. Tapi dibalik itu, kalau kita coba eksplorasi lebih jauh mendaki gunung bukan sekedar wisata alam biasa. Gunung menawarkan “sesuatu” seperti tantangan dan petualangan yang mungkin tiada banding.

Orang kebanyakan mengartikan mendaki gunung sebagai kegiatan mencecah meter demi meter dataran yang akhirnya akan mencapai suatu titik ketinggian. Umumnya rute menuju gunung di daerah wisata sudah tersedia dengan segala fasilitas penunjangnya seperti shelter (tempat peristirahatan), undakan tangga, atau jalan mendaki yang terbuka.

Tapi jangan tawarkan yang beginian kepada para petualang “jantan” yang gemar tantangan. Pasti mereka akan menggelengkan kepala dengan tampang jelek. Hehehe… mendaki gunung lewat fasilitas wisata yang tersedia terlalu gampang, seperti menjentikkan ujung jari, dan memuakkan karena suasana alam yang tak lagi asli.

Orang-orang seperti ini lebih suka mencari rute-rute pendakian yang jarang dilalui orang, kental suasana alam aslinya. Bayangin sambil jalan angin yang bertiup diantara dedaunan membelai manja, burung-burung terbang bebas sambil berkicau, atau lengkingan penghuni hutan asli lainnya.

Aktivitas seperti inilah yang dikenal dengan MOUNTAINEERING.

Mountaineering adalah sebuah kegiatan alam bebas yang menggunakan wahana gunung sebagai sarana kegiatannya. Gamblangnya, ia adalah kegiatan mendaki gunung melalui rute alam asli. Karena itupula kegiatan mountaineering membutuhkan kesiapan teknis tertentu, baik fisik, mental maupun peralatan pendukungnya.

Secara teknis mountaineering terbagi atas tiga kategori kegiatan: hill walking (hiking), scrambling, dan climbing. Ketiga kategori ini memiliki tingkatan aktifitas dan peralatan yang berbeda. Perbedaan mendasar diantaranya akan diuraikan seperti ini…

Hill walking atau yang lebih dikenal sebagai hiking adalah sebuah kegiatan mendaki daerah perbukitan atau menjelajah kawasan bukit yang biasanya tidak terlalu tinggi dengan derajat kemiringan rata-rata di bawah 45 derajat. Dalam hiking tidak dibutuhkan alat bantu khusus, hanya mengandalkan kedua kaki sebagai media utamanya. Tangan digunakan sesekali untuk memegang tongkat jelajah (di kepramukaan dikenal dengan nama stock atau tongkat pandu) sebagai alat bantu. Jadi hiking ini lebih simpel dan mudah untuk dilakukan.

Level berikutnya dalam mountaineering adalah scrambling. Dalam pelaksanaannya, scrambling merupakan kegiatan mendaki gunung ke wilayah-wilayah dataran tinggi pegunungan (yang lebih tinggi dari bukit) yang kemiringannya lebih ekstrim (kira-kira di atas 45 derajat). Kalau dalam hiking kaki sebagai ‘alat’ utama maka untuk scrambling selain kaki, tangan sangat dibutuhkan sebagai penyeimbang atau membantu gerakan mendaki. Karena derajat kemiringan dataran yang lumayan ekstrim, keseimbangan pendaki perlu dijaga dengan gerakan tangan yang mencari pegangan. Dalam scrambling, tali sebagai alat bantu mulai dibutuhkan untuk menjamin pergerakan naik dan keseimbangan tubuh.

Berbeda dengan hiking dan scrambling, level mountaineering yang paling ekstrim adalah climbing! Climbing mutlak memerlukan alat bantu khusus seperti karabiner, tali panjat, harness, figure of eight, sling, dan sederetan peralatan mountaineering lainnya. Kebutuhan alat bantu itu memang sesuai dengan medan jelajah climbing yang sangat ekstrim. Bayangkan saja, kegiatan climbing ini menggunakan wahana tebing batu yang kemiringannya lebih dari 80 derajat! Ouhhh…

Nah, tentu saja mountaineering ini cukup menantang untuk digeluti… selain wahana kegiatannya yang berada di daerah ketinggian pegunungan yang diwarnai dengan tebing lembah, ngarai, ceruk, sungai, dan panorama tiada tara, untuk melakoni mountaineering ini tentu saja dibutuhkan kesiapan fisik yang mantap.

Secara garis besarnya untuk melakoni mountaineering pastikan tubuh kalian dalam kondisi sehat, fit, dan stamina oke. Untuk itu olahraga teratur sangat mutlak. Selain itu, kau harus bebas dari semua phobia akan hal-hal yang berkaitan dengan tempat-tempat tinggi dan punya kesiapan rencana yang mantap!

Peralatan dasar kegiatan alam bebas seperti ransel, vedples (botol air), sepatu gunung, pakaian gunung, tenda, misting (rantang masak outdoor), kompor lapangan, topi rimba, peta, kompas, altimeter, pisau, korek, senter, alat tulis, dan matras mutlak dibutuhkan selain alat bantu khusus mountaineering seperti tali houserlite/kernmantel, karabiner, figure of eight, sling, prusik, bolt, webbing, harness, dan alat bantu khusus lainnya yang dibutuhkan sesuai level kegiatannya.

Ok, selamat ber-mountaineering-ria!

JARINGAN KOMPUTER

Sejak ditemukannya teknik komunikasi data antara komputer, mulailah berkembang penggunaan jaringan komputer di lembaga-lembaga bisnis maupun pendidikan dan riset serta lembaga-lembaga lainnya.

Dalam sebuah jaringan komputer biasanya terhubung banyak komputer ke sebuah atau beberapa server. Server adalah komputer yang difungsikan sebagai “pelayan” pengiriman data dan atau penerimaan data serta mengatur pengiriman dan penerimaan data diantara komputer-komputer yang tersambung. Fungsi pelayanan ini dimungkin oleh adanya penggunaan perangkat lunak khusus untuk server. Perangkat lunak yang dulu dikenal antara lain Xenix dari IBM, UNIX, Novell dan Microsoft Windows 3.11 dan beberapa merk lainnya. Saat ini yang umum dipergunakan orang adalah perangkat lunak Novell dan Windows NT dari jenis-jenis keluaran terbaru yang memiliki kompatibilitas dengan jaringan internet. Kompatibilitas ini atau kecocokan ini dimungkinkan oleh karena perusahaan produsennya telah mengembangkan produknya dengan menambahkan sistem TCP/IP. Sistem TCP/IP dipergunakan dalam jaringan internet sebagai sistem pengiriman meta data dan pengontrolannya.

konfigurasi.jpg

klik gambar untuk liat konfigurasinyah

Secara fisik, jaringan komputer merupakan komputer yang dihubungkan dengan kabel data. Ada beragam jenis kabel data yang dibuat untuk penggunaan tertentu seperti kabel RG 58 untuk didalam ruangan, dapat juga mempergunakan kabel UTP. Untuk hubungan jaringan komputer antar gedung dapat dipergunakan kabel RG8 atau yang dikenal sebagai kabel backbone. Apabila anda membangun jairngan komputer antar gedung sebaiknya memperhatikan keamanannya dari gangguan petir.

Model penyambungan antara komputer didalam sebuah jaringan komputer juga ada beberapa macam yang secara umum ada 3 buah model yaitu :

1. Model BUS, dimana komputer dan server dihubungkan pada sebuah kabel saja secara berderet. ujung-ujung kabel data diberi komponen elektronik yang disebut terminator, yaitu semacam resistor terbungkus logam dengan nilai tahanan sebesar 50 ohm.

2. Model Star, dalam model ini dipergunakan alat tambahan yang disebut hub sebagai penghubungnya. Hub memiliki lubang konektor sejumlah tertentu, ada yang memiliki 8 buah lubang koneksi (disebut port), 12 port atau 16 port dan 24 port. Kabel data dari masing-masing komputer atau server dihubungkan pada alat ini.

3. Model Token Ring, dalam hubungan komputer model ini, kabel penghubung antar komputer dibuat seperti lingkaran (ring). Komputer yang dihubungkan secara berderet pada sebuah kabel data kemudian ujung satu dan ujung satunya lagi dari kabel tersebut dihubungkan.

Ketiga model tersebut dapat dibuat berdiri sendiri atau dalam jaringan yang besar dapat juga digabungkan sesuai dengan kondisi setempat dan rencana penggunaannya.

Komunikasi data antara komputer tersebut dilakukan oleh protokol komunikasi data. Ada beberapa jenis protokol seperti ipx/spx, netbeui, tcp/ip dan protocol-protokol lainnya.

Dalam jaringan komputer yang terhubung ke internet, server memiliki beberapa fungsi. Yang umum dibuat adalah gateway (gerbang), web server (untuk penyimpanan homepage atau web site), mail server (untuk pelayanan elektronik mail). Dalam penggunaan khusus, sering juga dibuat proxy server, cache server, firewall server atau name server dan router. Informasi mengenai jaringan komputer dan teknik komunikasi data dapat anda cari di situs FreeBsd atau situs Linux.

KENANGAN KEPADA SEORANG DEMONSTRAN

Enam belas Desember 30 tahun lalu, Soe Hok Gie, tokoh mahasiswa dan pemuda, meninggal dunia di puncak G. Semeru, bersama Idhan Dhanvantari Lubis. Sosok dan sikapnya sebagai pemikir, penulis, juga aktivis yang berani, coba ditampilkan Rudy Badil, yang mewakili rekan lainnya, Aristides (Tides) Katoppo, Wiwiek A. Wiyana, A. Rachman (Maman), Herman O. Lantang dan almarhum Freddy Lasut.

“Siap-siap kalau mau ikut naik lagi ke Gunung Semeru. Kasih kabar secepatnya, sebab harus ada persiapan di musim penghujan Desember, juga pertengahan Desember itu bulan puasa Ramadhan,” kata Herman O. Lantang, mantan pimpinan pendakian Musibah Semeru 1969, yang masih amat bugar di umurnya yang sudah lewat 57 tahun.

Terkejut dan tersentuh juga saya saat mendengar ajakan Herman itu. Dia merencanakan membentuk tim kecil untuk mendaki puncak Semeru lagi Desember ini, sambil memperingati 30 tahun meninggalnya dua sobat lama kami, Soe Hok Gie dan Idhan Lubis. “Kita juga akan berdoa, sekalian mengenang Freddy Lasut yang meninggal beberapa bulan lalu,” lanjutnya.

Soe meninggal dunia saat baru berumur 27 tahun kurang sehari. Idhan malah baru 20 tahun. “Tanpa terasa Soe sudah tiga dasawarsa meninggalkan kita sejak Orde Baru … perkembangan yang terjadi di Tanah Air dalam dua tahun terakhir ini, khususnya gerakan mahasiswa yang telah menggulingkan pemerintahan Orde Baru, mengingatkan kita kembali pada situasi tahun 1960-an, ketika Soe masih menjadi aktivis mahasiswa kala itu,” begitu bunyi naskah buku kecil acara “Mengenang Seorang Demonstran”, (berisikan antara lain diskusi panel soal bangsa dan negara Indonesia ini), yang bakal diselenggarakan Iluni FSUI dan Alumni Mapala UI.

Kasih batu dan cemara

Dari beberapa catatan kecil serta dokumentasi yang ada, termasuk buku harian Soe yang sudah diterbitkan, Catatan Seorang Demonstran (CSD) (LP3ES, 1983), di benak saya mulai tergali suasana sore hari bergerimis hujan dan kabut tebal, tanggal 16 Desember 1969 di G. Semeru.

Seusai berdoa dan menyaksikan letupan Kawah Jonggringseloko di Puncak Mahameru (puncaknya G. Semeru) serta semburan uap hitam yang mengembus membentuk tiang awan, bersama Maman saya terseok-seok gontai menuruni dataran terbuka penuh pasir bebatuan. Kami menutup hidung, mencegah bau belerang yang makin menusuk hidung dan paru-paru.

Di depan kelihatan Soe sedang termenung dengan gaya khasnya, duduk dengan lutut kaki terlipat ke dada dan tangan menopang dagu, di tubir kecil sungai kering. Tides dan Wiwiek turun duluan. Sempat pula kami berpapasan dengan Herman dan Idhan. Kelihatannya kedua teman itu akan menjadi yang paling akhir mendaki ke Mahameru.

Dengan tertawa kecil, Soe menitipkan batu dan daun cemara. Katanya, “Simpan dan berikan kepada kepada ‘kawan-kawan’ batu berasal dari tanah tertinggi di Jawa. Juga hadiahkan daun cemara dari puncak gunung tertinggi di Jawa ini pada cewek-cewek FSUI.” Begitu kira-kira kata-kata terakhirnya, sebelum bersama Maman saya turun ke perkemahan darurat dekat batas hutan pinus atau situs recopodo (arca purbakala kecil sekitar 400-an meter di bawah Puncak Mahameru).

Di perkemahan darurat yang cuma beratapkan dua lembar ponco (jas hujan tentara), bersama Tides, Wiwiek dan Maman, kami menunggu datangnya Herman, Freddy, Soe, dan Idhan. Hari makin sore, hujan mulai tipis dan lamat-lamat kelihatan beberapa puncak gunung lainnya. Namun secara berkala, letupan di Jonggringseloko tetap terdengar jelas.

Menjelang senja, tiba-tiba batu kecil berguguran. Freddy muncul sambil memerosotkan tubuhnya yang jangkung. “Soe dan Idhan kecelakaan!” katanya. Tak jelas apakah waktu itu Freddy bilang soal terkena uap racun, atau patah tulang. Mulai panik, kami berjalan tertatih-tatih ke arah puncak sambil meneriakkan nama Herman, Soe, dan Idhan berkali-kali.

Beberapa saat kemudian, Herman datang sambil mengempaskan diri ke tenda darurat. Dia melapor kepada Tides, kalau Soe dan Idhan sudah meninggal! Kami semua bingung, tak tahu harus berbuat apa, kecuali berharap semoga laporan Herman itu ngaco. Kami berharap semoga Soe dan Idhan cuma pingsan, besok pagi siuman lagi untuk berkumpul dan tertawa-tawa lagi, sambil mengisahkan pengalaman masing-masing.

Tides sebagai anggota tertua, segera mengatur rencana penyelamatan. Menjelang maghrib, Tides bersama Wiwiek segera turun gunung, menuju perkemahan pusat di tepian (danau) Ranu Pane, setelah membekali diri dengan dua bungkus mi kering, dua kerat coklat, sepotong kue kacang hijau, dan satu wadah air minum. Tides meminta kami menjaga kesehatan Maman yang masih shock, karena tergelincir dan jatuh berguling ke jurang kecil.

“Cek lagi keadaan Soe dan Idhan yang sebenarnya,” begitu ucap Tides sambil pamit di sore hari yang mulai gelap. Selanjutnya, kami berempat tidur sekenanya, sambil menahan rembesan udara berhawa dingin, serta tamparan angin yang nyaris membekukan sendi tulang.
Baru keesokan paginya, 17 Desember 1969, kami yakin kalau Soe dan Idhan sungguh sudah tiada, di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Kami jumpai jasad kedua kawan kami sudah kaku. Semalam suntuk mereka lelap berkasur pasir dan batu kecil G. Semeru. Badannya yang dingin, sudah semalaman rebah berselimut kabut malam dan halimun pagi. Mata Soe dan Idhan terkatup kencang serapat katupan bibir birunya. Kami semua diam dan sedih.

Mengapa naik gunung

Sejak dari Jakarta Soe sudah merencanakan akan memperingati hari ultahnya yang ke-27 di Puncak Mahameru. Malam sebelumnya, tanggal 15 Desember, dalam tenda sempit di tepi hutan Cemoro Kandang, Soe yang amat menguasai lirik dan falsafah lagu-lagu tertentu, meminta kami menyanyikan lagu spiritual negro, Nobody Knows, sampai berulang-ulang. Padahal irama lagu ini monoton sampai sudah membosankan kuping dan tenggorokan.

Idhan yang pendiam, cuma duduk tertawa-tawa, sambil mengaduk-aduk rebusan mi hangat campur telur dan kornet kalengan. Malam dingin dan hujan itu, kami bertujuh banyak bercerita, termasuk mendengarkan rencana Soe yang mau berultah di puncak gunung. “Pokoknya gue akan berulang tahun di atas,” katanya sambil mesam-mesem. “Nyanyi lagi dong. Lagu Donna Donna-nya Joan Baez itu bagus sekali.”

Pagi hari nahas itu, sebelum berkemas untuk persiapan pendakian ke puncak, kami sarapan berat. Soe yang biasanya cuma bercelana pendek, kini memakai celana panjang dengan sepatu bot baru. Bahkan dia mengenakan kemeja kaus warna kuning dengan simbol UI di kantung. “Keren enggak?” Tanyanya.

Rombongan pun berjalan mendaki, menuju Puncak Mahameru dari dataran di kaki G. Bajangan. Soe sebagaimana biasanya, selalu memanggul ransel besar dan berat, berjalan gesit sambil banyak cerita dan komentar. Ia mengisahkan bahwa di sekitar daerah itu pasti masih banyak harimau karena dia menemukan jejak kakinya. Dia juga menyebut kalau Cemoro Kandang berlumpur arang gara-gara kebakaran hutan pinus tahunan, sebagai pertanda seleksi alam dan proses regenerasi tanaman hutan.

Dosen sejarah ini terus nyerocos kepada mahasiswanya (saya), asal muasal nama recopodo alias arca kembar, serta mitologi Puncak Mahameru yang berkaitan dengan nasib Pandawa Lima dalam pewayangan Jawa. Namun sang mahasiswa juga membayangkan dengan geli, betapa kagetnya wakil DPR-RI saat itu ketika menerima bingkisan dari kelompok Soe berisi gincu dan cermin sebagai perlambang fungsi anggota DPR yang banci. Sayang, cuma segitu ingatan saya tentang Soe pada jam-jam terakhirnya.

Yang masih tetap terngiang justru rayuan dan “falsafahnya”, kala mengajak seseorang mendaki gunung. “Ngapain lama-lama tinggal di Jakarta. Mendingan naik gunung. Di gunung kita akan menguji diri dengan hidup sulit, jauh dari fasilitas enak-enak. Biasanya akan ketahuan, seseorang itu egois atau tidak. Juga dengan olahraga mendaki gunung, kita akan dekat dengan rakyat di pedalaman. Jadi selain fisik sehat, pertumbuhan jiwa juga sehat. Makanya yuk kita naik gunung. Ayo ke Semeru, sekali-kali menjadi orang tertinggi di P. Jawa. Masa cuma Soeharto saja orang tertinggi di P. Jawa ini,” kira-kira begitu katanya, sambil menyinggung nama mantan Presiden Soeharto, nun sekitar 30 tahun lalu.

Memang pendakian ke Semeru ini merupakan proyek kebanggaan Mapala FSUI 1969. Soe dengan keandalannya melobi kiri-kanan, mampu mengumpulkan dana untuk subsidi penuh beberapa rekan yang mahasiswa bokek sejati.

Singkat cerita, musibah sudah terjadi. Soe mungkin tidak membayangkan betapa kematiannya bersama Idhan Lubis bikin repot setengah mati banyak orang. Kami yang ditinggal dalam suasana tak menentu, selama sembilan hari benar-benar hidup tidak kejuntrungan. Selain puasa sampai tiga hari karena kehabisan makanan, kami makin sedih saat menerima surat dari Tides via kurir, menanyakan keadaan Soe dan Idhan.

Herman, kami sudah sampai di Gubuk Klakah hari Kamis pagi, sesudah jalan sepanjang malam (sekitar 20 jam). Pak Lurah menyanggupi tenaga bantuan 10 orang dan bekal. Mohon kabar bagaimana Soe, Idhan, dan Maman dll. secepatnya mendahului rombongan … Tides dan Wiwik 18-12-69.

Saya pun terpilih menjadi kurir, mendahului rombongan sambil membawa surat untuk Tides. Isinya apalagi kalau bukan minta bantuan tenaga dan bahan makanan. Herman pun menulis surat: Saya tunggu di Cemorokandang dan bermaksud menunjukkan “site” tempat jenazah Soe dan Idhan … kirimkan: gula/gula jawa, nasi, lauk, permen, pakaian hangat … sebanyak mungkin!
Akhirnya, semua bantuan tiba. Seluruh anggota rombongan baru berkumpul lagi pada tanggal 22 Desember di Malang. Kurus dan kelelahan. Maman terpaksa dirawat khusus beberapa hari di RS Claket. Sedangkan Soe dan Idhan, terbaring kesepian di dalam peti jenazah masing-masing.
Untuk terakhir kali, kami tengok Soe dan Idhan. Soe yang mati muda, terbujur kaku dengan kemeja tangan panjang putih lengkap dengan dasi hitam. Jenis barang yang tidak mungkin dipakai semasa hidupnya.

Monyet tua yang dikurung

Kalau diingat-ingat, selama beberapa minggu sebelum keberangkatan dengan kereta api ke Jatim, Soe memang suka berkata aneh-aneh. Beberapa kali dia mengisahkan kegundahannya tentang seorang kawan yang mati muda gara-gara ledakan petasan. Ternyata dalam buku hariannya di CSD, Hok Gie menulis: “… Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin ngobrol-ngobrol pamit sebelum ke Semeru ….”

Soe yang banyak membaca dan sering diejek dengan julukan “Cina Kecil”, memanfaatkan kebeningan ingatannya untuk menyitir kata-kata “sakti” filsuf asing. Antara lain, tanggal 22 Januari 1962, ia menulis: “Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

Soe yang penyayang binatang (dia memelihara beberapa ekor anjing, banyak ikan hias dan seekor monyet tua jompo), sebelum musibah Semeru itu sempat berujar: “Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”

Arief Budiman, sang kakak yang menjemput jenazah Soe di Gubuk Klakah, juga merasakan sikap aneh adiknya. Sebelum dia meninggal pada bulan Desember 1969, ada satu hal yang pernah dia bicarakan dengan saya. Dia berkata, “Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang … makin lama makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi, apa sebenarnya yang saya lakukan … Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian.” (CSD) Arief sendiri mengungkapkan, ibu mereka sering gelisah dan berkata: “Gie, untuk apa semuanya ini. Kamu hanya mencari musuh saja, tidak mendapat uang.” Terhadap Ibu, dia cuma tersenyum dan berkata: “Ah, Mama tidak mengerti”.

Arief pun menulis kenangannya lagi: … di kamar belakang, ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik suram karena voltase yang selalu naik turun kalau malam hari. Di sana juga banyak nyamuk. Ketika orang-orang lain sudah tidur, sering kali masih terdengar suara mesin tik … dari kamar yang suram dan banyak nyamuk itu, sendirian, sedang mengetik membuat karangan … saya terbangun dari lamunan … saya berdiri di samping peti matinya. Di dalam hati saya berbisik, “Gie kamu tidak sendirian”. Saya tak tahu apakah Hok Gie mendengar atau tidak apa yag saya katakan itu.

Mimpi seorang mahasiswa tua

John Maxwell yang menyusun disertasinya, Soe Hok Gie – A Biography of A Young Indonesia Intellectual (Australian National University, 1997), menjabarkan betapa banyaknya komentar penting terhadap kematian Hok Gie. Harian Indonesia Raya yang masa itu sedang gencar-gencarnya mengupas kasus korupsi Pertamina-nya Ibnu Sutowo, memuat tulisan moratorium tentang Soe secara serial selama tiga hari.

Mingguan Bandung Mahasiswa Indonesia, mempersembahkan editorial khusus: …Tanpa menuntut agar semua insan menjadi seorang Soe Hok-gie, kita hanya bisa berharap bahwa pemuda ini dapat menjadi model seorang pejuang tanpa pamrih … kita membutuhkan orang seperti dia, sebagai lonceng peringatan yang bisa menegur kita manakala kita melakukan kesalahan.

Di luar negeri, berita kematian Soe sempat diucapkan Duta Besar RI Soedjatmoko, di dalam pertemuan The Asia Society in New York, sebagai berikut: … Saya ingin menyampaikan penghormatan pada kenangan Soe Hok-gie, salah seorang intelektual yang paling dinamis dan menjanjikan dari generasi muda pasca kemerdekaan …. Komitmennya yang mutlak untuk modernisasi demokrasi, kejujurannya, kepercayaan dirinya yang teguh dalam perjuangan … bagi saya ia memberikan suatu ilustrasi tentang adanya kemungkinan suatu tipe baru orang Indonesia, yang benar-benar asli orang Indonesia. Saya pikir pesan inilah yang telah disampaikannya kepada kita, dalam hidupnya yang singkat itu.

Kepada Ben Anderson, pakar politik Indonesia yang juga kawan lengket Soe, dalam salah satu surat terakhirnya, Soe menulis, … Saya merasa semua yang tertulis dalam artikel-artikel saya adalah sejumput petasan. Dan semuanya ingin saya isi dengan bom!

Dari cuplikan berbagai tulisan Soe, terasa sekali sikap dan pandangannya yang khas. Misalnya, Soe pernah menulis begini: Saya mimpi tentang sebuah dunia, di mana ulama – buruh – dan pemuda, bangkit dan berkata – stop semua kemunafikan, stop semua pembunuhan atas nama apa pun. Tak ada rasa benci pada siapa pun, agama apa pun, dan bangsa apa pun. Dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.

Khusus soal mahasiswa, menjelang lulus sebagai sejarawan, 13 Mei 1969, Soe sempat menulis artikel Mimpi-mimpi Terakhir Seorang Mahasiswa Tua. Dalam uraian tajam itu, ia menyatakan: … Beberapa bulan lagi saya akan pergi dari dunia mahasiswa. Saya meninggalkan dengan hati berat dan tidak tenang. Masih terlalu banyak kaum munafik yang berkuasa. Orang yang pura-pura suci dan mengatasnamakan Tuhan … Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa.

Saat dirinya masuk korps dosen FSUI, secara blak-blakan Soe mengungkap ada dosen yang membolos 50% dari jatah jam kuliahnya. Bahkan ada dosen menugaskan mahasiswa menerjemahkan buku. Terjemahan mahasiswa itu dipakainya sebagai bahan pengajaran, karena sang dosen ternyata tidak tahu berbahasa Inggris.

Masih di seputar mahasiswa, dalam nada getir, Soe menulis: … Hanya mereka yang berani menuntut haknya, pantas diberikan keadilan. Kalau mahasiswa Indonesia tidak berani menuntut haknya, biarlah mereka ditindas sampai akhir zaman oleh sementara dosen-dosen korup mereka.

Khusus untuk wakil mahasiswa yang duduk dalam DPR Gotong Royong, Hok Gie sengaja mengirimkan benda peranti dandan. Sebuah sindiran supaya wakil mahasiswa itu nanti bisa tampil manis di mata pemerintah. Padahal wakil mahasiswa itu teman-temannya sendiri yang dijuluki “politisi berkartu mahasiswa”. Langkah Soe ini membuat mereka terperangah. Sayangnya, momentum ini kandas. Soe Hok Gie keburu tewas tercekik gas beracun di Puncak Mahameru.

Berpolitik cuma sementara

John Maxwell dalam epilog naskah buku Mengenang Seorang Demonstran (November 1999), menulis begini, “Saya sadar telah menulis tentang seorang pemuda yang hidupnya berakhir tiba-tiba, dan terlalu dini dengan masa depan yang penuh dengan kemungkinan yang begitu luas.”

Kita telah memperhatikan bagaimana Soe Hok Gie terpana politik dan peristiwa nasional, setidak-tidaknya sejak masih remaja belasan tahun … namun hasratnya terhadap dunia politik, diredam oleh penilaiannya sendiri bahwa dunia politik itu pada dasarnya lumpur kotor. Semua orang seputar Soekarno dinilainya korup dan culas, sementara pimpinan partai dan politisi terkemuka, tidak lebih dari penjilat dan bermental “asal bapak senang”, serta “yes men”, atau sudah pasrah.

Pandangan ini menjadi latar belakang pembelaan Soe akan kekuatan moral dalam politik di awal tahun 1966. Keikutsertaannya dalam politik hanya untuk sementara. Pada pertengahan tahun yang sama, dia menyampaikan argumentasi bahwa sudah tiba saatnya bagi mahasiswa untuk mundur dari arena politik dan membiarkan politisi profesional bertugas, membangun kembali institusi politik bangsa.” Demikian tulis Maxwell.

Soe memang sudah bersikap. Dia memilih mendaki gunung daripada ikut-ikutan berpolitik praktis. Dia memilih bersikap independen dan kritis dengan semangat bebas. Pikiran dan kritiknya tertuang begitu produktif dalam pelbagai artikel di media cetak. Namun secara diam-diam, Soe ternyata juga menumpahkan unek-uneknya dalam bentuk puisi indah. Salah satunya Mandalawangi-Pangrango yang terkenal di kalangan pendaki gunung.

Pemuda lajang yang sempat pacaran dengan beberapa gadis manis FSUI, selain kutu buku, macan mimbar diskusi, kambing gunung, tukang nonton film, juga penggemar berat folksong (meski sama sekali tak becus bernyanyi merdu). Berbadan kurus nyaris kerempeng, di gunung makannya gembul.

Bagi pemuda dan khususnya mahasiswa demonstran, masih ada potongan puisi Hok Gie yang sempat tercecer, baru muncul di harian Sinar Harapan 18 Agustus 1973. Judulnya “Pesan” dan cukilan pentingnya berbunyi:

Hari ini aku lihat kembali

Wajah-wajah halus yang keras

Yang berbicara tentang kemerdekaaan

Dan demokrasi

Dan bercita-cita

Menggulingkan tiran

Aku mengenali mereka

yang tanpa tentara

mau berperang melawan diktator

dan yang tanpa uang

mau memberantas korupsi

Kawan-kawan

Kuberikan padamu cintaku

Dan maukah kau berjabat tangan

Selalu dalam hidup ini?

Futsal

Hampir sepekan yang lalu (15 April), Koran Tempo menurunkan feature soal perkembangan baru sepakbola yang kini tengah booming di Indonesia, futsal. Permainan sepakbola dengan format mirip basket itu memang menjadi ajang bermain baru sebagai antisipasi sempitnya lahan.

Kebetulan pula hari Minggu itu digelar final Liga Futsal Indonesia di Senayan, Jakarta. Biangbola sebagai klub futsal pro tertua di Indonesia akhirnya keluar sebagai juara usai mengalahkan Mastrans Jakarta 2-1. Selain perhelatan itu sendiri yang bersejarah karena baru pertama kali diadakan, jumlah penonton yang hadir selama babak final four juga menakjubkan.

Menurut catatan Dji Sam Soe, selaku sponsor utama final four, jumlah penonton per hari mencapai sekitar 2000 orang. Bahkan khusus di partai final ada sekitar 3000 kepala yang memenuhi Hall Basket Senayan. Jumlah itu melebihi rekor penonton di Indonesian Basketball League atau Proliga Voli.

Tapi yang perlu disimak adalah kesan sponsor dan ketua Badan Futsal Nasional (BFN), Cemby Hutapea, soal ramainya futsal, termasuk di liga. Pesan yang mau disampaikan sebenarnya adalah memperlihatkan kepada khalayak bagaimana bermain futsal yang baik dan benar sesuai peraturan resmi FIFA.

Dari faktor lapangan, futsal di Indonesia memang masih terkesan salah kaprah. Dari feature Tempo tadi, terlihat banyak lapangan yang menggunakan rumput sintetis (artificial grass). Padahal menurut aturan FIFA, lapangan futsal beralaskan karpet (matras) atau partikel kayu. Itu sebabnya, BFN menggunakan karpet untuk penyelenggaraan liga.

Mungkin penggunaan rumput sintetis dimaksudkan untuk mengantisipasi gaya main sepakbola konvensional yang dianut para penggila futsal. Dalam olahraga futsal, tekel atau body charge adalah kegiatan terlarang. Tentu saja akan dilarang karena lapangannya menggunakan hard cover (bukan tanah yang empuk). Jika ada pemain yang jatuh karena ditekel, maka akibatnya akan lumayan fatal.

Tapi menjadi hal yang wajar karena futsal masih baru di Indonesia. Tak banyak orang kita yang lebih dulu mengenal futsal ketimbang sepakbola. Akhirnya, banyak pemain yang masih bergaya sepakbola ketika memainkan futsal. Padahal menurut Ronaldinho (Brasil – Barcelona) atau Robinho (Brasil – Real Madrid), seorang pemain sepakbola justru sebaiknya mengenal futsal lebih dulu karena bisa belajar mengenai skill mengolah bola dan rotasi posisi yang cepat di areal relatif sempit.

Tapi ini memang sebuah proses. Menggeluti futsal boleh jadi akan dilirik banyak bibit muda Indonesia sehingga nantinya akan berguna di sepakbola. Siapa tahu, sepakbola Indonesia yang kembang kempis itu bisa berubah drastis dalam beberapa tahun ke depan melalui maraknya futsal.

10 Tanda-Tanda Anda Salah Membeli Komputer

1. Buku petunjuk pemakaiannya hanya berisi satu kalimat : “Good Luck!”
2. Buku “quick reference”-nya terdiri dari 120 halaman.
3. Setiap kali Anda menyalakannya, semua anjing tetangga menggonggong
4. Untuk menyalakannya, dibutuhkan kabel dan batre aki tambahan.
5. Berlabel “energy saving” karena tak ada power supply-nya.
6. Tombol F1, Ctrl, Alt, Del keyboard Anda berfungsi dengan baik, dan yang lainnya tidak sama sekali.
7. Pada CD ROM drive terdapat 5 tombol bertuliskan FF, RW, PAUSE, PLAY, dan REC.
8. Speakernya hanya berfungsi jika Anda memasukkan 3 koin uang seratus perakan ke dalam floppy drive-nya.
9. Setiap chip di dalamnya ditempeli stiker yang berbunyi “PERINGATAN PEMERINTAH : MEROKOK BISA MERUGIKAN KESEHATAN”
10. Selain memberikan sebuah kuitansi tanda pembayaran, penjualnya meminta Anda untuk membubuhkan cap jempol di selembar kertas segel kosong.

Belajar menjadi hacker

Hacker dengan keahliannya dapat melihat & memperbaiki kelemahan perangkat lunak di komputer; biasanya kemudian di publikasikan secara terbuka di Internet agar sistem menjadi lebih baik. Sialnya, segelintir manusia berhati jahat menggunakan informasi tersebut untuk kejahatan – mereka biasanya disebut cracker. Pada dasarnya dunia hacker & cracker tidak berbeda dengan dunia seni, disini kita berbicara seni keamanan jaringan Internet.

Saya berharap ilmu keamanan jaringan di tulisan ini digunakan untuk hal-hal yang baik – jadilah Hacker bukan Cracker. Jangan sampai anda terkena karma karena menggunakan ilmu untuk merusak milik orang lain. Apalagi, pada saat ini kebutuhan akan hacker semakin bertambah di Indonesia dengan semakin banyak dotcommers yang ingin IPO di berbagai bursa saham. Nama baik & nilai sebuah dotcom bisa jatuh bahkan menjadi tidak berharga jika dotcom di bobol. Dalam kondisi ini, para hacker di harapkan bisa menjadi konsultan keamanan bagi para dotcommers tersebut – karena SDM pihak kepolisian & aparat keamanan Indonesia amat sangat lemah & menyedihkan di bidang Teknologi Informasi & Internet. Apa boleh buat cybersquad, cyberpatrol swasta barangkali perlu di budayakan untuk survival dotcommers Indonesia di Internet.

Berbagai teknik keamanan jaringan Internet dapat di peroleh secara mudah di Internet antara lain di http://www.sans.org, http://www.rootshell.com, http://www.linuxfirewall.org/, http://www.linuxdoc.org, http://www.cerias.purdue.edu/coast/firewalls/, http://www.redhat.com/mirrors/LDP/HOWTO/. Sebagian dari teknik ini berupa buku-buku yang jumlah-nya beberapa ratus halaman yang dapat di ambil secara cuma-cuma (gratis). Beberapa Frequently Asked Questions (FAQ) tentang keamanan jaringan bisa diperoleh di http://www.iss.net/vd/mail.html, http://www.v-one.com/documents/fw-faq.htm. Dan bagi para experimenter beberapa script / program yang sudah jadi dapat diperoleh antara lain di http://bastille-linux.sourceforge.net/, http://www.redhat.com/support/docs/tips/firewall/firewallservice.html.

Bagi pembaca yang ingin memperoleh ilmu tentang jaringan dapat di download secara cuma-cuma dari http://pandu.dhs.org, http://www.bogor.net/idkf/, http://louis.idaman.com/idkf. Beberapa buku berbentuk softcopy yang dapat di ambil gratis dapat di ambil dari http://pandu.dhs.org/Buku-Online/. Kita harus berterima kasih terutama kepada team Pandu yang dimotori oleh I Made Wiryana untuk ini. Pada saat ini, saya tidak terlalu tahu adanya tempat diskusi Indonesia yang aktif membahas teknik-teknik hacking ini – tetapi mungkin bisa sebagian di diskusikan di mailing list lanjut seperti kursus-linux@yahoogroups.com & linux-admin@linux.or.id yang di operasikan oleh Kelompok Pengguna Linux Indonesia (KPLI) http://www.kpli.or.id.

Cara paling sederhana untuk melihat kelemahan sistem adalah dengan cara mencari informasi dari berbagai vendor misalnya di http://www.sans.org/newlook/publications/roadmap.htm#3b tentang kelemahan dari sistem yang mereka buat sendiri. Di samping, memonitoring berbagai mailing list di Internet yang berkaitan dengan keamanan jaringan seperti dalam daftar http://www.sans.org/newlook/publications/roadmap.htm#3e.
Dijelaskan oleh Front-line Information Security Team, “Techniques Adopted By ‘System Crackers’ When Attempting To Break Into Corporate or Sensitive Private Networks,” fist@ns2.co.uk http://www.ns2.co.uk. Seorang Cracker umumnya pria usia 16-25 tahun. Berdasarkan statistik pengguna Internet di Indonesia maka sebetulnya mayoritas pengguna Internet di Indonesia adalah anak-anak muda pada usia ini juga. Memang usia ini adalah usia yang sangat ideal dalam menimba ilmu baru termasuk ilmu Internet, sangat disayangkan jika kita tidak berhasil menginternetkan ke 25000 sekolah Indonesia s/d tahun 2002 – karena tumpuan hari depan bangsa Indonesia berada di tangan anak-anak muda kita ini.

Nah, para cracker muda ini umumnya melakukan cracking untuk meningkatkan kemampuan / menggunakan sumber daya di jaringan untuk kepentingan sendiri. Umumnya para cracker adalah opportunis. Melihat kelemahan sistem dengan mejalankan program scanner. Setelah memperoleh akses root, cracker akan menginstall pintu belakang (backdoor) dan menutup semua kelemahan umum yang ada.

Seperti kita tahu, umumnya berbagai perusahaan / dotcommers akan menggunakan Internet untuk (1) hosting web server mereka, (2) komunikasi e-mail dan (3) memberikan akses web / internet kepada karyawan-nya. Pemisahan jaringan Internet dan IntraNet umumnya dilakukan dengan menggunakan teknik / software Firewall dan Proxy server. Melihat kondisi penggunaan di atas, kelemahan sistem umumnya dapat di tembus misalnya dengan menembus mailserver external / luar yang digunakan untuk memudahkan akses ke mail keluar dari perusahaan. Selain itu, dengan menggunakan agressive-SNMP scanner & program yang memaksa SNMP community string dapat mengubah sebuah router menjadi bridge (jembatan) yang kemudian dapat digunakan untuk batu loncatan untuk masuk ke dalam jaringan internal perusahaan (IntraNet).

Agar cracker terlindungi pada saat melakukan serangan, teknik cloacking (penyamaran) dilakukan dengan cara melompat dari mesin yang sebelumnya telah di compromised (ditaklukan) melalui program telnet atau rsh. Pada mesin perantara yang menggunakan Windows serangan dapat dilakukan dengan melompat dari program Wingate. Selain itu, melompat dapat dilakukan melalui perangkat proxy yang konfigurasinya kurang baik.

Setelah berhasil melompat dan memasuki sistem lain, cracker biasanya melakukan probing terhadap jaringan dan mengumpulkan informasi yang dibutuhkan. Hal ini dilakukan dengan beberapa cara, misalnya (1) menggunakan nslookup untuk menjalankan perintah ‘ls <domain or network>’ , (2) melihat file HTML di webserver anda untuk mengidentifikasi mesin lainnya, (3) melihat berbagai dokumen di FTP server, (4) menghubungkan diri ke mail server dan menggunakan perintah ‘expn <user>’, dan (5) mem-finger user di mesin-mesin eksternal lainnya.

Langkah selanjutnya, cracker akan mengidentifikasi komponen jaringan yang dipercaya oleh system apa saja. Komponen jaringan tersebut biasanya mesin administrator dan server yang biasanya di anggap paling aman di jaringan. Start dengan check akses & eksport NFS ke berbagai direktori yang kritis seperti /usr/bin, /etc dan /home. Eksploitasi mesin melalui kelemahan Common Gateway Interface (CGI), dengan akses ke file /etc/hosts.allow.

Selanjutnya cracker harus mengidentifikasi komponen jaringan yang lemah dan bisa di taklukan. Cracker bisa mengunakan program di Linux seperti ADMhack, mscan, nmap dan banyak scanner kecil lainnya. Program seperti ‘ps’ & ‘netstat’ di buat trojan (ingat cerita kuda troya? dalam cerita klasik yunani kuno) untuk menyembunyikan proses scanning. Bagi cracker yang cukup advanced dapat mengunakan aggressive-SNMP scanning untuk men-scan peralatan dengan SNMP.
Setelah cracker berhasil mengidentifikasi komponen jaringan yang lemah dan bisa di taklukan, maka cracker akan menjalan program untuk menaklukan program daemon yang lemah di server. Program daemon adalah program di server yang biasanya berjalan di belakang layar (sebagai daemon / setan). Keberhasilan menaklukan program daemon ini akan memungkinkan seorang Cracker untuk memperoleh akses sebagai ‘root’ (administrator tertinggi di server).

Untuk menghilangkan jejak, seorang cracker biasanya melakukan operasi pembersihan ‘clean-up’ operation dengan cara membersihkan berbagai log file. Dan menambahkan program untuk masuk dari pintu belakang ‘backdooring’. Mengganti file .rhosts di /usr/bin untuk memudahkan akses ke mesin yang di taklukan melalui rsh & csh.

Selanjutnya seorang cracker dapat menggunakan mesin yang sudah ditaklukan untuk kepentingannya sendiri, misalnya mengambil informasi sensitif yang seharusnya tidak dibacanya; mengcracking mesin lain dengan melompat dari mesin yang di taklukan; memasang sniffer untuk melihat / mencatat berbagai trafik / komunikasi yang lewat; bahkan bisa mematikan sistem / jaringan dengan cara menjalankan perintah ‘rm -rf / &’. Yang terakhir akan sangat fatal akibatnya karena sistem akan hancur sama sekali, terutama jika semua software di letakan di harddisk. Proses re-install seluruh sistem harus di lakukan, akan memusingkan jika hal ini dilakukan di mesin-mesin yang menjalankan misi kritis.

Oleh karena itu semua mesin & router yang menjalankan misi kritis sebaiknya selalu di periksa keamanannya & di patch oleh software yang lebih baru. Backup menjadi penting sekali terutama pada mesin-mesin yang menjalankan misi kritis supaya terselamatkan dari ulah cracker yang men-disable sistem dengan ‘rm -rf / &’.

Bagi kita yang sehari-hari bergelut di Internet biasanya justru akan sangat menghargai keberadaan para hacker (bukan Cracker). Karena berkat para hacker-lah Internet ada dan dapat kita nikmati seperti sekarang ini, bahkan terus di perbaiki untuk menjadi sistem yang lebih baik lagi. Berbagai kelemahan sistem di perbaiki karena kepandaian rekan-rekan hacker yang sering kali mengerjakan perbaikan tsb. secara sukarela karena hobby-nya. Apalagi seringkali hasil hacking-nya di sebarkan secara cuma-cuma di Internet untuk keperluan masyarakat Internet. Sebuah nilai & budaya gotong royong yang mulia justru tumbuh di dunia maya Internet yang biasanya terkesan futuristik dan jauh dari rasa sosial.

Pengembangan para hobbiest hacker ini menjadi penting sekali untuk keberlangsungan / survival dotcommers di wahana Internet Indonesia. Sebagai salah satu bentuk nyatanya, dalam waktu dekat Insya Allah sekitar pertengahan April 2001 akan di adakan hacking competition di Internet untuk membobol sebuah server yang telah di tentukan terlebih dahulu. Hacking competition tersebut di motori oleh anak-anak muda di Kelompok Pengguna Linux Indonesia (KPLI) Semarang yang digerakan oleh anak muda seperti Kresno Aji (masaji@telkom.net), Agus Hartanto (hartx@writeme.com) & Lekso Budi Handoko (handoko@riset.dinus.ac.id). Seperti umumnya anak-anak muda lainnya, mereka umumnya bermodal cekak – bantuan & sponsor tentunya akan sangat bermanfaat dan dinantikan oleh rekan-rekan muda ini.

Mudah-mudahan semua ini akan menambah semangat pembaca, khususnya pembaca muda, untuk bergerak di dunia hacker yang mengasyikan dan menantang. Kalau kata Captain Jean Luc Picard di Film Startrek Next Generation, “To boldly go where no one has gone before”.

Arung Jeram Jawa Barat

SUKABUMI – Lama digeluti sebagai hobi, arung jeram berkembang menjadi wisata komersial sejak era sembilan puluhan. Berawal dari kenekatan segelintir pehobi, wisata pemicu adrenalin itu terus menggeliat. Operator-operator baru bermunculan. Mau tak mau, persaingan pun kian menajam. Agar bisa bertahan, dibutuhkan kejelian melihat animo pasar. Itu sebabnya, para operator membuat paket menarik untuk merayu konsumen. Yang pasti, wisatawan tak lagi sekadar menikmati ”galaknya” arus sungai yang sampai berbuih-buih itu.   

                                                               Bayu Dwi Mardana
Para petualang bersorak saat mengarungi jeram Sungai Cikandang.

Masyarakat di Sungai Citarik percaya , pernah ada seorang ibu yang sedang mencuci di sungai kehilangan anaknya karena dimakan ikan. Lokasi hilangnya anak tersebut kemudian dinamai Desa Cigelong (Ci = air, gelong = tertelan). Desa Cigelong saat ini menjadi meeting point dan start arung jeram yang diselenggarakan oleh operator Arus Liar, di Sukabumi Jawa Barat.
Masyarakat di seputar Citarik masih percaya bahwa pelaku kejahatan yang menyeberang Sungai Citarik pasti akan tertangkap. Mitos dan kepercayaan menjadi kekayaan batin penduduk di desa-desa sepanjang aliran Sungai Citarik.
Di sepanjang Sungai Citarik terdapat empat operator arung jeram. Pada mulanya hanya BJ’S di tempat ini. Lalu ada Arus Liar, Ardis dan Selaras. Dan pernah ada operator Citra tetapi kini sudah kolaps.
Arung jeram dewasa ini bukan lagi olahraga air yang asing bagi masyarakat. Sudah dikenal oleh pecinta alam sejak dekade 70-an. Pasalnya pada awalnya kegiatan arung jeram sempat bercitra buruk. Olahraga alam yang berisiko mencabut nyawa. Ini karena Citarum Rally yang menelan korban tujuh orang tewas pada tahun 1975.
”Waktu itu, reputasi arung jeram jadi sangat jelek. Musibah itu bisa terjadi karena banyak orang belum tahu arung jeram. Sama saja kita nggak bisa bawa motor terus disuruh ikut balap motor,” kenang Lody Korua, Direktur Utama PT Lintas Jeram Nusantara, pengelola Arus Liar, di Sungai Citarik, Sukabumi.
Lody yang bekerja bersama istrinya ini memulai usaha itu pada tahun 1995. Berawal dari hobi, kini usahanya berkembang pesat. Padahal dulu, tamu-tamu yang datang hanya segelintir pekerja asing di Indonesia. Kini, wisatawan lokal justru menjadi pasar utamanya.
Diungkapkan pula oleh surpervisor Arus Liar, Komarudin, pilihan Sungai Citarik ditempuh melalui survei panjang. Setelah dua tahun mengadakan survei yang dilakukan di banyak sungai, pilihan akhirnya jatuh pada sungai ini yang berhulu di Taman Nasional Gunung Halimun. Harapannya, debit sungai diperkirakan tidak terpengaruh di musim kemarau. Tetapi ternyata dalam satu tahun Arus Liar praktis hanya mampu beroperasi selama 8 bulan saja. Penebangan hutan menjadi salah satu faktor turunnya debit air di sepanjang Sungai Citarik.
Pada waktu Lody memulai kegiatannya, peralatan masih seadanya. Sekarang peralatan berkembang. Namun hingga saat ini mereka masih memesan peralatan dari luar negeri.

Paket Wisata
Arus Liar membagi jarak tempuh paket wisata arung jeram. Misalnya saja rafting sepanjang 13 kilometer dari meeting point menuju ke Desa Cikadu pelabuhan Ratu. Atau paket rafting yang dimulai dari Parakan Telu menuju ke Desa Citangkolo Kecamatan Cikidang sepanjang delapan kilometer. Dan paling pendek rute empat kilometer yang ditempuh selama satu jam.
Menyadari bahwa jualannya sangat terpengaruh oleh faktor alam, Lody Korua berimprovisasi mengembangkan jenis kegiatan lain. Pelanggan yang datang berulang, repeat customer, maka alternatif petualangan alam lain yang mereka pikirkan. Akhirnya diadakan fasilitas untuk kegiatan paintball (main perang-perangan seperti perang sungguhan), off-road (jalan-jalan di gunung naik jip), trekking (jalan-jalan di lereng gunung), berkemah, menginap di delta Citarik dalam rumah sederhana berbentuk saung, dan yang terakhir adalah fasilitas petualangan buat anak-anak.
Di tengah persaingan usaha yang cukup ketat, Arus Liar menyiasati dengan meningkatkan keamanan bagi tamu-tamu. Operator ini yang pertama memberlakukan kebijakan untuk tiap lima perahu didampingi satu perahu rescue. Mereka yang pertama melengkapi perahu rescue dengan tim medis. Antisipasi keadaan darurat dengan memelopori tim rescue darat menggunakan mobil off road. Kalau terjadi apa-apa, seperti mendadak banjir, evakuasi bisa dilakukan dengan lebih cepat.

Cikandang
Salah satu kiat dalam berusaha adalah meniru keberhasilan usaha. BJ yang pertama di Citarik, berasal dari pengelola arung jeram di Sungai Ayung, Ubud, Bali. Pada gilirannya pengelola di Sungai Ayung, Ubud Bali adalah operator arung jeram di banyak sungai terkemuka dunia yang berawal dari keberhasilan di Sungai Colorado,AS. Loddy Korua pun berawal dari BJ sebelum ia mengelola Arus Liar.
Rupanya usaha getok tular ini pun menjangkit ke kawasan lain di Jawa Barat. Di Sungai Cisadane dan hulu Ciliwung pun ada yang mengelola kegiatan arung jeram. Memang tidak sebesar dan seterkenal di Citarik. Sedangkan yang baru di Sungai Cikandang, Garut.
Bila Citarik telah terkelola rapi, Sungai Cikandang, Bungbulang, Garut justru menanti kehadiran investor. Dengan sejumlah kelebihan, Cikandang dipandang punya potensi sebagai pilihan wisata arung jeram. Apalagi saat berjalan menuju lokasi start kita disuguhi aneka panorama. Jalurnya juga menantang. Dari aspal mulus hingga medan off-road berbatu-batu.
Sungai yang punya tingkat kesulitan 3 – 4 itu telah lama diarungi para pehobi arung jeram. Walau tak ada data pasti, namun sejak akhir sembilan puluhan Cikandang berhasil merayu kedatangan para petualang. Mereka datang dari mana-mana. Dari tingkat lokal hingga luar daerah, seperti Jakarta, Bogor, Bandung, Bali dan lainnya.
Bagi wisatawan pencari kenikmatan adrenalin alias olahraga pacu jantung itu, Cikandang adalah tempat yang tepat. Karakteristik jeram yang menantang dan layak diarungi berbalut dengan panorama alam. Tebing-tebing batuan andesit dengan selingan akar pohon tua amat memanjakan mata. Di daerah datar, tumbuh permukiman penduduk yang jumlahnya tak banyak.
Pesona alami berpadu dengan jeram yang penuh kejutan tentu membuat rasa penasaran para petualang. Tiap kali mata menatap rangkaian jeram yang ganas, seolah hati ini bergetar. Kadang getaran itu berupa kekhawatiran, bahkan mungkin ketakutan. Tapi yang lebih sering, getaran itu hampir persis seperti giuran ”syuur” ketika seseorang menatap wanita berparas cantik.
Air sungai berhulu di Gunung Papandayan ini amat jernih. Polusi masih jauh dari sini. Tak ada pabrik dan perilaku jorok pengaruh kota besar. Penduduk lebih banyak memanfaatkan derasnya sungai sebagai pembangkit listrik tenaga air berupa kincir.
Lokasi finish yang dekat dengan pesisir selatan pantai Desa Cijayana, Bungbulang makin menambah keasyikan. Empat ratus meter di depan, mata disuguhi panorama pantai. Jadi kalau mau berlanjut dengan penyisiran pantai, sungguh sesuai dengan idaman.

Sulit Bisnis
Menurut Fajar Bakri dari Boogie Adventure Club, Cikandang jadi favorit petualang gara-gara debit airnya yang cenderung stabil. Walau surut saat kemarau, jeram sungai ini tak banyak yang hilang. ”Kita masih bisa menikmati jeram ber-grade tiga. Tantangannya juga masih ada.” Keistimewaan itu tentu amat memanjakan para petualang. Cikandang tak kenal musim pengarungan.
Kondisi itu tampaknya tak banyak dijumpai di sungai-sungai Jawa Barat. Maraknya penebangan liar di kawasan hulu tentu berdampak langsung bagi debit air sungai. Itu sebabnya, saat kemarau, operator wisata arung jeram di sungai Sungai Citarik menjerit.
Variasi jeram yang tergolong komplet, juga menjadi daya tarik tersendiri. Ini diakui Bakri. Di sungai ini, manuver yang dilakukan haruslah tepat. Bila salah langkah, hanya dalam hitungan beberapa detik perahu akan mengalami flip (terbalik). Atau lengah sedikit, tubuh bakal tertendang jeram.

”Di Cikandang, kita nggak perlu nunggu lama buat dapat jeram. Beberapa meter dari lokasi start, di depan sudah ada jeram ”selamat datang”. Apa nggak asyik tuh,” ujar Adiningrat, pehobi arung jeram bersemangat. Buat yang pertama kali turun, tentu kejutan itu terasa istimewa.
Selain jeram ”selamat datang”, ada sederet jeram dengan tingkat kesulitan tinggi yang telah menunggu. Sebut saja, Jeram Bangkai, Jeram Sobek, Jeram Erlan Hole, Jeram Tepung, Jeram Batu Nunggul, Jeram Panjang, Jeram Anis, Jeram Parakan Lubang dan Jeram Goodbye. Selama empat jam, kita bisa menikmati semua itu.
Walau punya sederet kelebihan, bukan berarti Cikandang jadi favorit di mata operator arung jeram. Jauhnya perjalanan ke lokasi start menjadi hambatan tersendiri. Ini jelas mempengaruhi perhitungan harga jual dan waktu kegiatan. Meski begitu, beberapa operator dan klub pecinta alam memasukkan nama Cikandang dengan option khusus.
Kata Bakri, dulu ada operator bernama You Can Raft yang coba menjual potensi wisata sungai ini. Tapi itu tak berlangsung lama. Mahalnya harga paket, membuat para peminat surut. Padahal mereka telah membuat paket terpadu. Racikan antara kemping di hutan, arung jeram dan diakhiri dengan offroad.
”Lamanya kegiatan itu, juga berpengaruh untuk paket wisata yang ditawarkan. Orang kan biasanya pengen arung jeram buat ngisi waktu weekendnya. Nah, sekarang kalau kita ke sini (Cikandang), paling tidak butuh waktu minimal tiga hari,” ujar Bakri yang dibenarkan dengan anggukan oleh Adi. Bakri lantas berharap, pembangunan jalan lintas selatan Jawa Barat dapat selesai dalam waktu dekat. Dengan begitu, investor pun datang untuk menggarap. Apalagi bila didukung oleh pemerintah daerah.

Steven n’ the coconuttrees suguhkan reagge asal indonesia

Siapa tak kenal Bob Marley. Saking besarnya pengaruh Marley, dia berhasil meluaskan musik Reagge ke perbagai penjuru dunia. Di Indonesia, musik asli masyarakat Jamaica itu diadaptasi oleh grup band Steven and The Coconut Trees. Mereka coba meramu, reagge rasa Indonesia.

“Buat gue musik barat itu influence, tapi ini lho reagge lokal, reagge rasa melayau, atau Indonesia,” ucap Steven ditemui beberapa waktu lalu. Band ‘rasta’ ini mulai dikenal dengan single mereka, ‘Welcome To My Paradise’. Steven PeDe aja tuh mengusung musik reagge, karena itu obsesinya, punya band reagge.

“Musik Reagge memang minoritas, tapi gue coba bicara lebih jujur lewat lirik gue, agar banyak yang terwakili,” sambung kakak Micky AFI ini. Dulu sih, Steven sempat menjajal musik metal. Namun apa mau dikata, darahnya lebih nge-reagge dari pada metal. Akhirnya, Steven berkelana mencari musisi reagge terbaik di Indonesia. Hasilnya, bersama personil The Coconut Trees, Arif dan Teguh (gitar), Rifal (Bass), Iwan(Keyboard), Teddy (Percussion) dan Adjie (Drum), Steven mencoba peruntungan di dunia musik Indonesia.

Kehadiran Steven and The Coconut Trees ternyata mendapat sambutan positive. Maklum aja, emang enggak banyak band yang main reagge kan. Hasilnya? “Dari jualan kaset, lumayan lah, cukup buat hura-hura setahun,” ujar Steven seraya tergelak. Steven and The Coconut Trees juga berhasil meraih ‘Best Newcomer’ di ajang Soundrenaline 2006 Jakarta. Pokoknya, asoy lah

Maaf Tuhan, provider kami yang ber”Jangkauan Luas” tidak menerima Anda

Judul itu memang mengundang. Ya, memang. Tuhan kita, Allah, ditolak mentah2 oleh sebuah provider kartu komunikasi yang berjargon “Jangkauan Luas”.

Waktu itu, masih di akhir bulan Oktober, saya sudah mencapai tahap final dari total 6 tahap tes rekruitmen untuk menjadi salah satu karyawan provider itu.

Tahap terakhir tentu saja, wawancara dengan “petinggi” provider (klaim mereka).

Wawancara lancar, secara saya memang berasal dari jurusan temen2 (inf) dimana waktu kita kuliah dl, diajari soal perkembangan TI.

Sampai di bagian akhir, mereka meminta kepastian dari saya yang kalau saya jawab YA, artinya terlalu sombong karena meniadakan unsur KeTuhanan, sementara kalau saya jawab TIDAK, tentu saja itu merendahkan nilai jual , ya kan…

Saya jawab sesuai keyakinan..”Insya Allah, YA”..

Di luar dugaan, reaksi mereka (2 orang) begitu membuat darah berdesir (cie..:D )..gimana tidak..kalau salah satu dari mereka, seorang wanita muda berkulit hitam dan gemuk , menjawab dengan sangat lantang bahwa : “Saya sangat tidak menyukai jawaban Insya Allah anda tadi. Maaf bukan SARA, tapi saya sangat tidak suka karena kata itu menunjukkan ketidak pastian dan tidak bisa diterima di dunia industri.”..dan masih panjang lagi ungkapan kebencian wanita tambun hitam itu pada kata Insya Allah, yang Masya Allah, baru saya ucapkan satu kali…

Muka memerah dan saya terdiam , sementara sang pria yang berinisial MANG tersenyum2 diantara gaya bancinya..

Saya tidak yakin 2 orang itu petinggi betulan dari provider itu, karena dari sikap dan perilaku tidak menampakkan sopan santun yang biasanya dimiliki seorang pengusaha..

Dari wawancara, saya sedikit berasumsi bahwa 2 orang ini berasal dari divisi SDM dan dari tahun ke tahun, mereka ditugaskan untuk wawancara seperti ini. Jadi bukan petinggi dong ya kl mereka dapat tugas? hwahahaa

Oalaaah….

Ternyata tak berhenti sampai disitu. Masih banyak teman2 lain yang mengalami perlakuan serupa.

Wah, sayang tidak saya rekam. Kan bisa jadi bukti otentik dan bisa dibawa ke media..

Sekian saja pengalaman edan ini, semoga provider ber”Jangkauan Luas” itu segera disadarkan kalau perlu dibangkrutkan..Amin…

Sebarkan saja supaya bisa menjadi pelajaran bagi semua.

Regards,

ILMA

(duh.. duh.. semangat aja!!)

« Previous entries